Pages

Selasa, 25 Mei 2010

DAFTAR JUDUL PENELITIAN / SKRIPSI ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

A. Pengaruh Teknik Relaksasi Bernafas Terhadap Respon Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu kala I

Setiap tahun lebih dari 200 juta wanita hamil. Sebagian besar kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup pada ibu yang sehat walaupun demikian, pada beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri, rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian.
Rasa nyeri pada persalinan dalam halini adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, peruabahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna kulit dan apabila tidak segera diatas I maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress. Nyeri persalinan dapat mempengaruhi kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamia dan kartisol yang menaikkan dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Nyeri juga dapat menyebabkan aktivitas uterus yang tidak terkoordinasi yang akan mengakibatkan persalinan lama. Adapun nyeri persalinan yang berat dan lama dapat mempengharuhi sverifikasi sirkulasi maupun metabolisme yang harus segera diatasi karma dapat menyebabkan kematian gania.
Intervensi untuk mengurangi ketidaknyamanan atau nyeri selama persalinan yaitu intervensi farmakologis nyeri non farmakologis perawat berperan besar dalam penanggulangan nyeri non farmakologis, yang salah satunya dengan menggunakan teknik relaksasi bernafas sesuai dengan teori Dick-Read dan Lamage bahwa nyeri persalinan yang disebabkan oleh rasa nyeri, takut dan tegang dapat dikurangi / diredakan dengan berbagai metode yaitu menaikkan pengetahuan ibu tentang hal-hal yang akan terjadi pada suatu persalinan, menaikkan kepercayaan diri dan relaksasi pernafasan.
Teknik relaksasi bernafas merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan masukkan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat mencegah kesalahan yang berlebihan pasca persalinan. Adapaun relaksasi bernafas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem saraf simpatis (SSO) dalam keadaan homeostasis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, mengurangi kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradaptasi demgam nyeri selama proses persalinan.
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh teknik relaksasi bernafas dan masase terhadap adaptasi nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif di RS xxx didapatkan bahwa teknik relaksasi bernafas mampu menaikkan adaptasi terhadap nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif yang berdasarkan pada hasil uji paired T test (Dwi Purnama, 2005).
Menurut data dari RS XXX menunjukkan jumlah persalinan sebanyak 789 orang, semakin meningkat jumlah persalinan maka tanggung jawab tenaga ksesehatan di tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin berat, khususnya bagaimana melaksanakan metode yang dapat membantu merasakan nyeri yang berarti. Namun fakta yang terjadi saat ini tempat-tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini Puskesmas dan Rumah Sakit belum secara efektif melaksanakan intervensi Keperawatan maternitas teknik relaksasi bernafas dalam penanganan nyeri persalinan, sehingga tidak diketahui secara pasti apakah memang benar ada pengaruh teknik relaksasi terhadap nyeri pada pasien inpartu kala I sesuai dengan referensi / teori yang ada.

B. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Sikap Perawat Dalam Meminimalkan Stress Akibat Hospitalisasi Pada Anak Pra Sekolah

Hospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya. Tetapi pada umumnya hospitalisasi dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emosi atau tingkah laku yang mempengaruhi kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama dirawat di rumah sakit.
Stressor yang mempengaruhi permasalahan di atas timbul sebagai akibat dari dampak perpisahan, kehilangan kontrol ( pembatasan aktivitas ), perlukaan tubuh dan nyeri, dimana stressor tersebut tidak bisa diadaptasikan karena anak belum mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan segala rutinitas dan ketidakadekuatan mekanisme koping untuk menyelesaikan masalah sehingga timbul prilaku maladaptif dari anak.
Untuk mengurangi dampak rawat nginap di rumah sakit, peran perawat sangat berpengaruh dalam mengurangi ketegangan anak. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi dampak stress hospitalisasi antara lain : 1) Meminimalkan dampak perpisahan 2) Mengurangi kehilangan kontrol, 3) Meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan nyeri. Untuk dapat mengambil sikap sesuai dengan peran perawat dalam usahanya meminimalkan stress akibat hospitalisasi, perlu adanya pengetahuan sebelumnya tentang stress hospitalisasi, karena keberhasilan suatu asuhan keperawatan sangat tergantung dari pemahaman dan kesadaran mengenai makna yang terkandung dalam konsep-konsep keperawatan serta harus memiliki pengetahuan , sikap dan keterampilan dalam menjalankan tugas sesuai dengan perannya. Untuk itu, penelitian ini dibuat untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat dalam meminimalkan stress akibat hospitalisasi pada anak pra sekolah

C. Hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien dengan krisis penyakit/penderitaan/kematian di ruang Bedah dan Interna RSUD X

Aspek spiritual harus diperhatikan dalam perawatan selain aspek fisik dan psikososial karena menurut beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan spiritual berpengaruhi terhadap kesehatan dan perawatan, diantaranya berdoa sendiri atau dengan orang terdekat dilaporkan sebagai strategi koping yang baik/positif. Melalui doa orang dapat mengekspresikan perasaan, harapan dan kepercayaanya kepada Tuhan. Perawatan spiritual yang dirasakan dapat langsung mempengaruhi kualitas penyembuhan seseorang, atau kualitas individu dan pengalaman kematian keluarga. Individu dengan tingkat spiritual yang tinggi dan baik cenderung mengalami ansietas pada tingkat yang rendah, dan beberapa klien dengan penyakit terminal yang dipersiapkan spiritualnya dengan baik, meninggal dunia dalam keadaan damai dan tenang. Aspek pertama yang harus diperhatikan perawat dalam pemenuhan kebutuhan spritual klien adalah peningkatan pengetahuan perawat tentang perawatan spiritual klien dan manfaatnya, sebab sikap positif atau negatif seseorang terhadap suatu obyek, sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan seseorang terhadap manfaat obyek tersebut.
Pada ruang Bedah dan Interna RSUD X sering ditemukan klien dengan krisis penyakit/penderitaan/kematian sehingga pemenuhan kebutuhan spiritual klien perlu dilakukan untuk mendukung proses penyembuhan/mengurangi penderitaan klien. Namun fakta menunjukkan bahwa sebagian besar (60%) perawat tidak memperhatikan pemenuhan kebutuhan spiritual klien

D. Kepuasan pasien terhadap standar praktek keperawatan diruangan yang menerapkan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP)

Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh yang sekaligus merupakan tolak ukur bagi keberhasilan pencapaian tujuan rumah sakit. Pelaksanaan pelayanan keperawatan suatu rumah sakit tak akan berjalan dengan baik apabila proses keperawatan yang dilaksanakan tidak terstruktur dengan baik pula. Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) merupakan salah satu sistem terstruktur yang memungkinkan perawat memberikan asuhan keperawatan secara profesional dan berkualitas. Kualitas merupakan salah satu dari beberapa dimensi kunci yang merupakan faktor dari penilaian kepuasan konsumen. Untuk mengetahui puas atau tidaknya pasien terhadap standar praktek pelayanan keperawatan yang diberikan di ruang model MPKP, perlu adanya suatu kajian tentang penilaian pasien terhadap standar praktek yang diterapkan diruang model MPKP.
Standar praktek keperawatan adalah suatu pernyataan yang menguraikan suatu kualitas yang diinginkan terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan untuk pasien. Standar praktek keperawatan ini digunakan untuk mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan yangdiberikan kepada pasien sebagai fokus utamanya. Kepuasan pasien yang mengacu pada penerapan standar praktek keperawatan pada dasarnya mencakup panilaian kepuasan pasien mengenai : Hubungan perawat-klien/pasien, kenyamanan pelayanan, kebebasan melakukan pilihan, pengatahuan dan kompetensi tekhnis perawat, efektivitas pelayanan keperawatan dan keamanan tindakan keperawatan.
Fakta dilapangan penerapan MPKP belum dilaksanakan secara menyeluruh, banyak ruang rawat inap yang belum menerapkan model ini, sehingga penulis berkeinginan meneliti tingkat kepuasan pasien terhadap standar praktek keperawatan pada ruang rawat inap yang menerapkan MPKP.

E. Hubungan Pendidikan Keluarga Yang Telah Dialami Dengan Kecemasan Yang Dirasakan Keluarga Penderita Autis

Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan dimana gangguan ini mengakibatkan interaksi sosial dan kemampuan berkomunikasi anak terganggu. Angka kejadian anak autisme akhir-akhir ini meningkat, peningkatan ini terdapat di seluruh dunia, pada saat ini diperkirakan terdapat antara 15 – 20 kasus per 10.000 anak, dan ada kesan bahwa di negara-negara maju makin banyak penyandang autisme dan saat ini di Indonesia pun sudah banyak sekali ditemukan kasus autisme.
Anak harapan keluarga dimasa depan, dalam sebuah keluarga disfungsi apa saja (penyakit, cedera, perpisahan, dan sebagainya) yang terjadi pada salah satu anggota keluarga, seringkali akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain secara keseluruhan. Seiring dengan Autisme yang terjadi dan prognosis yang masih kurang baik serta harapan keluarga dimasa depan, maka timbul kecemasan terhadap apa yang akan terjadi dimasa depan si anak.
Dalam pandangan psikoanalitik, pendukung terjadinya kecemasan adalah adanya pertentangan antara Id dan Super Ego; Id mewakili dorongan dan impuls primitif individu, Super Ego mencerminkan hati nurani individu yang dikendalikan oleh norma-norma budaya.. Sebagai pengendali Super Ego, norma-norma budaya mempengaruhi pertentangan Id dan Super Ego dalam proses terjadinya kecemasan.
Norma-norma budaya merupakan produk dari pendidikan yang telah dialami individu. Hal ini sesuai dengan salah satu batasan pendidikan yaitu sebagai proses transformasi budaya. Untuk mendapat gambaran nyata tentang hubungan pendidikan keluarga yang telah dialami dengan kecemasan yang dirasakan keluarga, perlu diadakan penelitian sehingga diperoleh gambaran nyata dan dapat dicari alternatif pemecahan masalah.

BIODATA PEMBUAT
NAMA : JUSEN MAITUM
TTL : TALAUD 27 JULI 1991

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger